Kamis, 23 Oktober 2014
Rabu, 22 Oktober 2014
Selasa, 26 Agustus 2014
Selasa, 27 Mei 2014
Bukan Yesus yang Disalibkan? Benarkan Yesus Digantikan Orang Lain di Atas Salib?
Bukan Yesus yang Disalibkan?
Benarkan Yesus Digantikan Orang Lain di Atas Salib?
Peristiwa penyaliban Yesus
adalah peristiwa besar sepanjang sejarah di dunia. Peristiwa itu penting karena telah
dinubuatkan oleh para Nabi dalam Perjanjian Lama, dan kemudian digenapi di
dalam Perjanjian Baru. Penyaliban Yesus
penting, bukan bagi orang Kristen, tetapi bagi seluruh dunia, setiap orang
menembus batas suku, ras, bahasa dan apa pun.
Akan tetapi, kemudian menjadi
perdebatan yang tak pernah berakhir hingga saat ini, ketika ada pihak atau
golongan tertentu yang menyangkali kebenaran penyaliban. Sebenarnya, persoalan ini sangat klasik. Pembelotan terhadap kebenaran penyaliban
Yesus dimulai oleh prajurit pengawal kubur saat itu. Matius 28:11-15, adalah fakta pembelotan
terhadap kebangkitan Yesus. Merupakan
isu yang disebarkan di tengah-tengah masyarakat luas, karena kepentingan
kelompok dan golongan tertentu saat itu, dan sekarang isu itu telah
diwarisi. Itu hal tentang penyangkalan
terhadap kebangkitan Yesus.
Hal penyangkalan dengan
penyaliban Yesus pun terjadi. Ada sumber
yang dipakai untuk menyatakan bahwa bukan Yesus yang disalib. Pihak tertentu mengungkap berupa “bukti” dari
Al-Qur’an Surat 4 An Nisaa ayat 157.
dan karena ucapan
mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka (orang
kafir) tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi ( yang mereka / orang
kafir bunuh ialah ) orang yang di serupakan dengan ‘Isa bagi mereka (orang kafir). Sesungguhnya orang-orang yang berselisi paham tentang (
pembunuhan ) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka (orang
kafir) tidak
mempunyai keyakinantentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti
prasangka belaka, mereka (orang kafir) tidak ( pula ) yakin bahwa yang mereka(orang
kafir) bunuh itu adalah ‘Isa.”
Sepintas
lalu mendengar/membaca ayat ini kedengaran artinya bahwa ayat itu memberi bukti
bahwa bukan Isa yang disalibkan melainkan orang serupa dia. Inilah kesalahan dalam memahami sumber
ini. Sesungguhnya ayat ini, bukan sedang
memberi bukti bahwa bukan Isa yang disalibkan.
Perkara ini adalah bahwa ada
kelompok orang yang sejak awal menentang Isa Al Masih, Isa Putra Maryam, dan
mereka menyampaikan bahwa mereka telah membunuh Isa Al Masih, padahal
tidak. Orang yang mereka bunuh adalah
orang yang diserupakan dengan Isa.
Kemudian timbullah keraguan sendiri di antara mereka, karena yang mereka
bunuh adalah bukan Isa, tetapi yang serupa dengan dia. Dan pada akhirnya timbulllah keraguan di
antara kelompok orang.
Dengan meneliti ayat ini secara
seksama, dan menjauhkan pikiran dari prasangka; jelas ayat ini tidak sedang
berbicara tentang penyaliban Yesus; melainkan suatu perdebatan di antara orang
minoritas dan mayoritas; yang pro dan kontra.
Kelompok orang kontra menyampaikan sebuah pernyataan, demi menguatkan
keberadaan mereka; bahwa mereka berhasil membunuh Isa, padahal mereka tidak
melakukannya, melainkan orang yang serupa dengan dia. Kebenaran penyaliban sama sekali tidak
memiliki keterkaitan dalam ayat ini.
Bahkan ayat ini sama sekali tidak memberi referensi bahwa Yesus disalib
atau pun tidak. Karena ayat ini adalah
ayat tentang perdebatan.
Jadi, kemudian apakah kesimpulannya?
Benarkah Yesus disalibkan, dan Yesus kah yang disalibkan. Ya, Yesuslah yang disalibkan, dan
penyalibanNya adalah benar. Sudah
dinubuatkan dalam Perjanjian Lama oleh pada Nabi, dan digenapi demi rencana
Agung Tuhan dinyatakan bagi dunia.
Taurat, Kitab Para Nabi, Zabur (Mazmur) dan Injil merupakan sumber yang
saling mendukung, dan tak satupun mengurangi kebenaran antara satu dengan yang
lain tentang Nubuatan Penyaliban Yesus dan Penggenpannya. Puji kepada Tuhan, karena Ia mempercayakan kepada kita
kebenaranNya dan keselamatan kekal bagi kita, dan bagi dunia ini, bukan hanya
untuk orang Kristen, seluruh umat manusia.
Senin, 26 Mei 2014
Pertanggungjawaban Iman
“APOLOGETIKA”
“Apologetik” (apologia) artinya adalah pembelaan/
pertanggungjawaban atas iman/keyakinan yang kita percayai. Jadi, berapologetik adalah memberi
pertanggungjawaban kepada orang lain yang meragukan/mempertanyakan keyakinan
yang kita percayai.
Apologetik sudah ada sejak jaman
Alkitab, secara khusus sebelum dan sesudah para rasul, saat banyak orang-orang
mulai menyerang pengajaran kekristenan; dari orang-orang yang tidak percaya,
dan juga dari pihak-pihak yang mencoba merubuhkan fondasi iman orang percaya
yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.
Dalam Kolose 4:6, Paulus mendorong jemaat di Kolose untuk hidup dalam
kasih dan mampu memberi jawab kepada setiap orang tentang iman mereka di dalam
Kristus Yesus.
Berapologetik berbeda dengan perdebatan. Paulus sangat menegus keras orang untuk
berdebat, karena itu hanya menimbulkan keributan dan juga hal itu pun sia-sia. Kolose 2:2, 8; adalah peringatan Paulus agar
orang percaya tidak terjebak dengan “kata-kata indah”, sesuatu yang terlihat
sebagai kebenaran / “filsafat” tetapi
tidak benar menurut Kristus. Jadi tolak
ukur dari semua kebenaran adalah Kristus, yaitu “Injil” .
Dan lagi ukurannya adalah “Hukum
Kasih”. Karena penggenapan seluruh hukum
Taurat adalah kasih. Jadi jika ada orang
berdebat menimbulkan keributan, sakit hati, kebencian, perpecahan dan akhirnya
menghilangkan “KASIH” kepada sesama dan kepada Kristus, maka kita perlu
menjauhi hal itu.
Akan tetapi berkaitan dengan
pertanggungjawaban iman, kita patut menjelaskan sebaik-baiknya iman yang kita
percaya kepada orang lain. Bagaimana caranya; tidak lain adalah membaca Firman Tuhan, memahaminya secara utuh di dalam
akal dan pikiran melalui tuntunan Roh Kudus dan menterjemahkannya di dalam
perilaku setiap hari. Jadi saat ada
orang mempertanyakan kepercayaan kita, mereka tidak hanya dipuaskan dengan
dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan hidup kita.
Lalu bagaimana saat orang yang
kita beri pertanggungjawaban tidak bisa menerima dan menolak? Hal itu adalah wajar dan kita tidak perlu kecewa, putus asa dan merasa tidak
berhasil. Bagi orang yang dipanggil
Tuhan, maka IA memberi Roh Kudus untuk membuat orang itu mengerti, saat itu
juga atau secara perlahan (Yohanes 15:16), bagi yang tidak mau terima, sampai
mulut berbuih bahkan sampai mati pun orang itu tidak akan bisa menerimanya,
karena dia tidak dikaruniakan Roh Kudus untuk percaya sebab orang demikian
bukanlah orang yang ditentukan/dipilih untuk menerima hidup kekal (Matius
10:14). Namun demikian, kita tidak
boleh menghakimi mereka atas ketidakpercayaan itu, hanya perlu berdoa saja agar
Tuhan mengasihani mereka.
Ketika berdialog dengan orang
lain, sebaiknya kita persiapkan diri secara rohani di dalam pimpinan Roh Kudus,
agar kemudian jangan juga menjadi
terpengaruh dengan berbagai-bagai tuduhan terhadap keyakinan kita di dalam
Kristus. Beranilah menyampaikan
kebenaran itu dengan tegas.
Tiga
aspek dari Apologetik:
1. Pembuktian:
menyampaikan sebuah dasar rasional bagi iman kepercayaan yang sebenarnya
menghadapi ketidakpercayaan baik dalam diri orang percaya sendiri maupun orang
tidak percaya.
2. Pembelaan:
menjawab keberatan dari ketidakpercayaan.
3. Penyerangan:
menyerang kebodohan dari ketidakpercayaan. Tuhan tidak hanya memanggil umat-Nya
untuk menjawab keberatan tapi juga ofensif terhadap kebodohan keberdosaan
manusia. (_BG)
Selasa, 06 Mei 2014
Ketetapan Kedaulatan TUHAN dan Pilihan Manusia
KETETAPAN
KEDAULATAN TUHAN DAN
PILIHAN
MANUSIA (1 Samuel 14-15)
Beberapa hari dalam minggu
lalu kita membaca kitab 1 Samuel. Pasal
8, bangsa Israel menginginkan seorang raja, ingin sama seperti bangsa-bangsa di
sekitarnya; dan mereka menolak Tuhan yang memimpin mereka secara langsung. Samuel pun mendengar desakan mereka, dan
Tuhan menetapkan Saul menjadi raja atas bangsa itu (Ps. 9-10).
Seiring dengan berjalan
waktu, Saul menjadi pemimpin hebat, mengalahkan ribuan musuh. Akan tetapi, kemudian Saul menjadi lupa diri;
seorang dari Suku Benyamin yang kecil telah menjadi orang besar, kemudian lupa
akan dirinya dan menjadi tinggi hati, mulai dari ketidaktaatan dan
ketidakhormatannya terhadap Firman Tuhan.
Apa yang terjadi kemudian, Tuhan menolak Saul; Samuel pun berduka
karenanya. Samuel, seorang berhati bapa
menyayangkan ketidaktaan seorang raja yang dulu ia urapi, namun ia tidak bisa
menolak ketetapan Tuhan. Dengan
kedaulatannya Tuhan telah menetapkan Saul menjadi raja, dan dengan kedaulatannya,
oleh karena ketidaktaatan Saul pun ditolak oleh Allah
dan kemudian berkenan kepada Daud, seorang kecil dari padang penggembalaan,
yang tak terhitung dalam penilaian manusia dipilih menggantikan raja pilihan
manusia.
Belajar dari Saul; merefleksikan
proses demokrasi yang sudah dilaksanakan beberapa waktu ini, seseorang dipilih
dan menjadi terpilih mungkin saja karena kehendak massa, akan tetapi tidak
seorang pun bisa mengubah kedaulatan Tuhan.
Tuhan mengijinkan suatu bangsa menetapkan pemimpin atas mereka, Tuhan
mungkin saja mengijinkan, tetapi ketika itu bukan atas perkenaan Tuhan, kelak
Tuhan pun akan bertindak. Tetapi ketika
Tuhan yang berkehendak, maka Dialah yang tetap mengokohkan Daud dalam
pemerintahannya. Ketika Daud jatuh,
Tuhan masih berkenan memulihkannya.
Mari terus mendoakan yang terbaik
bagi bangsa dan negara tercinta, dan Kabupaten Sintang yang di dalamnya kita
berada. Tuhan berkenan memberkati kota
dan mengokohkan negeri yang dimana anak-anakNya hidup dalam ketetapan dan dalam
kebenaran FirmanNya. Pilihan kita tak selamanya adalah yang dikenan TUHAN, meski hal itu terwujud dalam banyak perjuangan dan kerja keras. Itulah sebabnya, dalam memilih suatu "pilihan" dalam hidup hendaknya kita memilih sesuai kehendak Tuhan.
Minggu, 04 Mei 2014
"Christ for all, All for Christ”
"Christ for all, All for Christ” (AB. Simpson)
“Kristus untuk semua, semua untuk Kristus”. Kalimat itu adalah kalimat seorang hamba Tuhan yang telah dipakai Tuhan dengan kuasa yang hebat dan luar biasa mengabarkan Injil ke seluruh dunia. ABSimpson adalah pendiri Gereja Kemah Injil di seluruh dunia, yang saat ini telah ada di 86 Negara. Dan salah satunya adalah Gereja Kemah Injil Indonesia, yang merupakan karya Kristus melalui RA. Jaffray yang diutus oleh AB. Simpson berdasarkan penglihatan yang Tuhan berikan kepadanya.
AB. Simpson telah kembali kepada BAPA, RA. Jaffray juga sudah kembali kepada BAPA, tetapi apa yang telah mereka lakukan senantiasa tinggal tetap dan kekal dalam ingatan setiap generasi ke generasi. Hidup mereka yang satu kali sungguh telah memberi dampak kekekalan bagi seluruh dunia.
Hal yang pernah diungkapkan Jim Elliot, seorang misionari muda ke suku Auca, India. “Hanya ada satu kehidupan yang akan segera berlalu, tetapi apa yang dilakukan bagi Kristus akan bertahan sampai kekal”
Jim Elliot bersama dengan 4 rekannya yang berusia antara 26-30 tahun, meninggalkan istri dan anak-anak mereka pergi beritakan Injil ke Suku Auca, suku pembantai. Sungguh tragis, mereka disambut tombak yang membunuh mereka semua. Mereka masih muda, pergi mengantar nyawa, bahkan sebelum sepatah kata Injil mereka sampaikan. Ironi itu kini telah berganti dengan sukacita di Suku Auca, bangsa pembunuh itu, bahkan pembunuh kelima anak muda itu telah menerima Kristus, ribuan orang Suku Auca saat ini telah terima Yesus. Istri dan anak-anak dari kelima pemuda yang dibunuh itu justru yang kemudian meneruskan usaha pemberitaan Injil itu di tengah Suku Auca.
Hidup kelima misionari itu sangat singkat, belum melihat anak mereka tumbuh remaja, pemuda dan dewasa. Tetapi hidup yang sangat amat singkat itu telah menorehkan sejarah yang dikenang hingga kekekalan. Hidup mereka telah memberikan dampak kekekalan kepada Suku Auca, suku pembunuh itu sehingga mereka menjadi pengikut Yesus.
Bagaimana dengan kita kaum muda GKII Imaneul saat ini. Adakah kita juga mau mengatakan, hidup yang satu kali ini saya gunakan bagi Kristus. Sebagai seorang muda, kita memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berdampak bagi keluarga, gereja, masyarakat kita. Mulailah saat ini dengan berkomitmen untuk hidup takut akan Tuhan, belajar kebenaran Tuhan, dan berjalan dalam rencana-Nya.
Hiduplah bukan sekedar hidup, tetapi menghidupi hidup dengan sungguh-sungguh di dalam kehidupan Kristus. Masa muda pun begitu singkat, tetapi dalam waktu singkat itu kita bisa berbuat hal yang memuliakan Kristus dan berdampak bagi kota kita, bagi gereja kita, bahkan bagi generasi kita.
Melalui talenta, bakat dan karunia yang Tuhan beri kita lakukan pekerjaan-pekerjaan yang memuliakanNya.
Langganan:
Postingan (Atom)